Rabu, 10 Juni 2015

Artikel 3



Heboh Beras Plastik
(Tinjauan Dari Perlindungan Hak Asasi Rakyat)

Beras plastik diam-diam beredar di pasar tradisional. China memang ahlinya membuat barang-barang KW (palsu). Beras, yang biasanya terbuat dari padi pun bisa dipalsukan. Hal ini diklaim para pengguna media sosial setelah melihat video pembuatan (yang diduga) beras secara tidak wajar.

Dalam video yang diunggah pada 13 Mei 2015 itu menunjukkan proses pembuatan besar dengan durasi selama 2,29 menit. Dikatakan sang pengunggah jika beras yang dibuat dari plastik ini telah beredar di semua tempat.

Jika sekilas di perhatkan antara beras plastik dan beras asli ini memang tampak tidak ada bedanya. Sehingga bagi mereka yang tidak tau ciri ciri beras plastik akan mudah tertipu. Namun, meski tampak serupa masih ada perbedaan di antara beras asli dan palsu tersebut.

Salah satu akun di instagram, @bisatau menjelaskan jika proses pembuatan beras plastik ini berasal dari kentang dan getah resin sintetis yang dibentuk menyerupai beras. Beras palsu ini banyak dijual di pasar-pasar di China, terutama di Provinsi Shanxi.
"Baru ketahuan palsu jika sudah dimasak karena teksturnya agak keras dan sulit dicerna," ujar @bisatau, dikutip dari akun media sosialnya, Selasa 19 Mei 2015.

Dikatakannya lagi, selain memproduksi beras plastik, para pemalsu itu juga mampu memalsukan beras asli sehingga mirip beras Wuchang. Beras itu adalah salah satu varietas beras yang cukup mahal di China.

Seorang warga mendapatkan beras plastik itu setelah membelinya dari pedagang beras di sebuah pasar tradisional di Kota bekasi, Jawa Barat.Dia mengaku mengatakan, beras plastik itu bentuknya sangat mirip dengan beras asli.

Dari akun Dewi, dia mendapatkan beras plastik tersebut ketika membelinya pada Senin (18/5/2015)
"Ketika saya memasak untuk membuat bubur dan nasi uduk, kok beda ya? Tidak seperti beras sebelumnya. Padahal saya beli dengan harga Rp.8000 di tempat langganan saya," ujarnya berkicau dalam akun instagramnya.

Lewat akun pribadinya @dewinurizza menyampaikan, "'BERAS PALSU' Pagi ini... tepatnya tgl 18 mei 2015 saya mendapati beras yang sudah dibeli adalah beras palsu.
Ketika saya memasak untuk membuat bubur dan nasi uduk (kok beda ya??) Tidak seperti beras sebelumnya.. padahal saya beli di harga Rp.8000,- dan di tempat langganan saya.

Badan Penelitian Obat dan Makanan (BPOM) mengaku kasus beras plastik di Indonesia kini sudah menjadi perhatian pihak lembaga International Food safety Authorities Network (INFOSAN) World Health Organization (WHO). Pihaknya telah berkoordinasi dengan Infosan WHO guna mencari informasi apakah beras oplosan plastik tersebut juga ditemui di negara lain.

"BPOM sebagai emergency kontak Infosan pusat, menanyakan apakah ada kasus serupa saat ini di negara selain Indonesia," tutur Kepala BPOM Roy Sparingga di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat, Jumat (22/5). polisi pun akhirnya menghentikan penyelidikan kasus beras yang sebelumnya diduga mengandung bahan plastik,karna dinyatakan tidak terbukti dari uji laboratorium forensik. Polisi menyatakan tidak ada dugaan sabotase pada isu beras yang ditemukan oleh warga Bekasi, Dewi Septiani.

"Nggaklah (dugaan sabotase)," kata Kabareskrim Komjen Budi Waseso di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu(27/5/2015).
Masyarakat menurut Komjen Buwas berhak curiga jika menemukan keganjilan pada barang yang dibeli. Polisi yang kemudian menindaklanjuti hasil temuan masyarakat.

"Jadi begini. Masyarakat itu berhak untuk curiga jika menemukan sesuatu barang yang bukan harapan dia. Dia bisa saja konotasi negtif. Dalam hal inilah polisi harus segera membuktikan apakah beras itu benar-benar plastik atau bukan. Berbahaya atau tidak. Mengandung kimia atau tidak," ujarnya.

Meski penyelidikan dihentikan, polisi saat ini menyelidiki kasus beras lainnya yang dioplos dengan bahan kimia.
"Ya penyelidikan (beras plastik) sudah selesai. Tapi kan kita temukan juga dugaan beras dioplos dengan bahan kimia atau pemutih dan lain-lain. Ini sedang kita tangani," tutur Komjen Buwas.

Kasus beras diduga dicampur bahan kimia sedang ditangani Polres Jakarta Selatan. Saat ini sampel beras sedang diuji dilaboratorium forensic."Hasilnya belum keluar. Tapi sudah kita lakukan penyegelan dari tempatnya. Tinggal tergantung hasil uji laboratorium," ujarnya.

Hasanudin Abdurakhman, seorang doktor fisika yang memimpin sebuah perusahaan Jepang yang memproduksi bahan plastik menganggap beras plastik tidak masuk di akal dari segi produksi dan dari segi ekonomi," tambahnya.

"Karena harga bahan dasar plastik -bahkan yang daur ulang- akan lebih mahal dari beras, dan teknologi untuk memproduksinya juga tidak bisa yang terlalu sederhana. Lebih-lebih plastik tak bisa dicerna dan gampang dikenali rasanya yang asing oleh lidah," katanya. Oleh karna itu dapat disimpulkan bahwa beras plastic itu sebenarnya tidak ada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar