Heboh Beras Plastik
(Tinjauan Dari Perlindungan Hak Asasi Rakyat)
(Tinjauan Dari Perlindungan Hak Asasi Rakyat)
Beras plastik
diam-diam beredar di pasar tradisional. China memang ahlinya membuat barang-barang
KW (palsu). Beras, yang biasanya terbuat dari padi pun bisa dipalsukan. Hal ini
diklaim para pengguna media sosial setelah melihat video pembuatan (yang diduga)
beras secara tidak wajar.
Dalam video yang
diunggah pada 13 Mei 2015 itu menunjukkan proses pembuatan besar dengan durasi
selama 2,29 menit. Dikatakan sang pengunggah jika beras yang dibuat dari
plastik ini telah beredar di semua tempat.
Jika sekilas di
perhatkan antara beras plastik dan beras asli ini memang tampak tidak ada
bedanya. Sehingga bagi mereka yang tidak tau ciri ciri beras plastik akan mudah
tertipu. Namun, meski tampak serupa masih ada perbedaan di antara beras asli
dan palsu tersebut.
Salah satu akun di
instagram, @bisatau menjelaskan jika proses pembuatan beras plastik ini berasal
dari kentang dan getah resin sintetis yang dibentuk menyerupai beras. Beras
palsu ini banyak dijual di pasar-pasar di China, terutama di Provinsi Shanxi.
"Baru ketahuan
palsu jika sudah dimasak karena teksturnya agak keras dan sulit dicerna,"
ujar @bisatau, dikutip dari akun media sosialnya, Selasa 19 Mei 2015.
Dikatakannya lagi,
selain memproduksi beras plastik, para pemalsu itu juga mampu memalsukan beras
asli sehingga mirip beras Wuchang. Beras itu adalah salah satu varietas beras
yang cukup mahal di China.
Seorang warga
mendapatkan beras plastik itu setelah membelinya dari pedagang beras di sebuah
pasar tradisional di Kota bekasi, Jawa Barat.Dia mengaku mengatakan, beras plastik itu
bentuknya sangat mirip dengan beras asli.
Dari akun Dewi, dia mendapatkan beras
plastik tersebut ketika membelinya pada Senin (18/5/2015)
"Ketika saya memasak untuk membuat
bubur dan nasi uduk, kok beda ya? Tidak seperti beras sebelumnya. Padahal saya
beli dengan harga Rp.8000 di tempat langganan saya," ujarnya berkicau
dalam akun instagramnya.
Lewat akun pribadinya @dewinurizza
menyampaikan, "'BERAS PALSU' Pagi ini...
tepatnya tgl 18 mei 2015 saya mendapati beras yang sudah dibeli adalah beras
palsu.
Ketika saya memasak untuk membuat bubur dan
nasi uduk (kok beda ya??) Tidak seperti beras sebelumnya.. padahal saya beli di
harga Rp.8000,- dan di tempat langganan saya.
Badan Penelitian
Obat dan Makanan (BPOM) mengaku kasus beras plastik di Indonesia kini sudah
menjadi perhatian pihak lembaga International Food safety Authorities Network
(INFOSAN) World Health Organization (WHO). Pihaknya telah berkoordinasi dengan
Infosan WHO guna mencari informasi apakah beras oplosan plastik tersebut juga
ditemui di negara lain.
"BPOM sebagai
emergency kontak Infosan pusat, menanyakan apakah ada kasus serupa saat ini di
negara selain Indonesia," tutur Kepala BPOM Roy Sparingga di Kantor
Kementerian Perdagangan, Jakarta
Pusat, Jumat (22/5). polisi pun akhirnya menghentikan penyelidikan kasus beras
yang sebelumnya diduga mengandung bahan plastik,karna dinyatakan tidak terbukti
dari uji laboratorium forensik. Polisi menyatakan tidak ada dugaan sabotase pada
isu beras yang ditemukan oleh warga Bekasi, Dewi Septiani.
"Nggaklah
(dugaan sabotase)," kata Kabareskrim Komjen Budi Waseso di Mabes Polri,
Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu(27/5/2015).
Masyarakat menurut
Komjen Buwas berhak curiga jika menemukan keganjilan pada barang yang dibeli.
Polisi yang kemudian menindaklanjuti hasil temuan masyarakat.
"Jadi begini.
Masyarakat itu berhak untuk curiga jika menemukan sesuatu barang yang bukan
harapan dia. Dia bisa saja konotasi negtif. Dalam hal inilah polisi harus
segera membuktikan apakah beras itu benar-benar plastik atau bukan. Berbahaya
atau tidak. Mengandung kimia atau tidak," ujarnya.
Meski penyelidikan
dihentikan, polisi saat ini menyelidiki kasus beras lainnya yang dioplos dengan
bahan kimia.
"Ya
penyelidikan (beras plastik) sudah selesai. Tapi kan kita temukan juga dugaan
beras dioplos dengan bahan kimia atau pemutih dan lain-lain. Ini sedang kita
tangani," tutur Komjen Buwas.
Kasus beras diduga
dicampur bahan kimia sedang ditangani Polres Jakarta Selatan. Saat ini sampel
beras sedang diuji dilaboratorium forensic."Hasilnya
belum keluar. Tapi sudah kita lakukan penyegelan dari tempatnya. Tinggal
tergantung hasil uji laboratorium," ujarnya.
Hasanudin Abdurakhman, seorang doktor
fisika yang memimpin sebuah perusahaan Jepang yang memproduksi bahan plastik
menganggap beras plastik tidak masuk di akal dari segi produksi dan dari segi
ekonomi," tambahnya.
"Karena harga bahan dasar plastik
-bahkan yang daur ulang- akan lebih mahal dari beras, dan teknologi untuk
memproduksinya juga tidak bisa yang terlalu sederhana. Lebih-lebih plastik tak
bisa dicerna dan gampang dikenali rasanya yang asing oleh lidah," katanya.
Oleh karna itu dapat disimpulkan bahwa beras plastic itu sebenarnya tidak ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar